Cirebon merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang kian berkembang. Banyak pelancong yang mulai berdatangan untuk menikmati berbagai wisata di kota udang ini. Tujuannya adalah wisata kuliner, wisata sejarah, hingga wisata religi. Wisata sejarah yang biasanya digemari adalah kehidupan dan kebudayaan kerajaan atau kesultanan. Jika Anda berkunjung ke Cirebon dan memiliki waktu yang sangat singkat, anda harus berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon.
Lokasi  Keraton  Kanoman yang  berada di Jalan Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk yang berada tepat di belakang pasar Kanoman. Berlokasi di Jalan Winaon Kampung Kanoman, Kota Cirebon, keraton ini didominasi oleh warna putih pada bangunannya. Keraton Kanoman memiliki luas sekitar 6 hektare dengan halaman yang cukup luas. Lokasi tidak terlalu jauh dari Stasiun Kejaksaan Cirebon. Keraton Kanoman Cirebon namanya tidak sepopuler Keraton Kasepuhan, namun keraton ini memiliki daya tarik tersendiri. selain terdapat wisata Keraton Kasepuhan, di Cirebon juga terdapat sebuah Keraton yang bernama Keraton Kaoman Cirebon. Meskipun tidak seramai Keraton Kasepuhan, namun bukan berarti wisatawan tidak ada yang datang kemari. Keraton Kanoman yang merupakan salah satu tonggak sejarah Kota Cirebon dan berkembangnya agama Islam di Cirebon yang menjadi saksi. Di keraton Kanoman, anda akan banyak menemukan peninggalan-peninggalan sejarah dan kisah sejarah yang sangat mendalam dan akan disampaikan oleh pemandu wisata atau abdi dalem Keraton Kanoman.
Pada tahun 1855, Sultan Baharuddin memisahkan diri dari Keraton Pungkawati karena merasa berbeda pendapat atas siapa yang harusnya memimpin keraton Cirebon. Keraton Kanoman bagi saya memiliki arsitektur yang unik. Jika bangunan jaman dahulu di dominasi oleh bata merah, keraton Kanoman di dominasi oleh warna putih. Yang membuatnya lebih unik dan menarik lagi, terdapat tempelan piring-piring kecil yang masing masing berbeda motif. Konon piring-piring ini adalah warisan dari masa Tionghoa. Letak Keraton Kanoman berada persis di belakang Pasar Kanoman, sungguh di sayangkan keunikan arsitektur ini tidak dapat dinikmati hal layak banyak karena penampakannya yang tertutup oleh bangunan pasar dan ruko-ruko yang ramai sepanjang hari.

Bagi anda pecinta fotografi, tentu saja Keraton Kanoman Cirebon menjadi tempat yang cocok bagi anda yang suka dengan dunia fotografi. Anda akan menemukan banyak spot foto sejarah dan barang-barang peninggalan Kesultanan Cirebon di masa lalu. Dengan mengabadikan momen disini, tentu menjadi sesuatu yang unik dan pastinya anda akan merasakan suasana yang berbeda. Peninggalan yang ada di Keraton Kanoman erat sekali kaitannya dengan syiar agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Semenjak kekuasaan masih dipegang oleh sultan anom , Belanda berusaha menanamkan kekuasaanya ke dalam keraton-keraton di Cirebon melalui perjanjian persahabatan yang ternyata isinya adalah permainan monopoli Belanda. Pada tahun 1788, Putera pertama Sultan Anom IV melakukan perlawanan terbuka terhadap Belanda. Masyarakat yang berjuang bersama diantaranya adalah Mirsa, yang melawan penjajah dengan bantuan para tokoh agama.
Untuk tiket masuk ke Keraton Kanoman Cirebon, para pengunjung ditarik biaya Rp. 7.000,- per orangnya. Harga yang relatif murah, kita juga dapat mempelajari sejarah yang ada di Keraton Kanoman. Jam buka keraton ini adalah dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00 WIB. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum untuk dapat mencapai lokasi tersebut. Letaknya yang tidak tersembunyi, membuat pengunjung dengan mudah mencari alamatnya.