Kota Cirebon kini menjadi
alternatif pelancongan bagi warga dari kota lain ermask Jakarta setelah kawasan Puncak dan Kota
Bandung. Hanya 4 jam perjalanan dari ibu kota, Cirebon menawarkan berbagai
macam jenis wisata: dari sejarah hingga panorama alam. Mari menyambangi salah
satu diantaranya keraton kanoman. Keraton Kanoman merupakan salah satu
alternatif wisata yang pas buat pecinta budaya dan sejarah. Keraton ini sarat
akan kisah berdirinya Cirebon dan saksi perkembangan budaya kota terasi itu. Keraton
Kanoman terletak di belakang Pasar Kanoman, 3 kilometer dari Kota Ciebon.
Keraton ini sudah berdiri sejak 1678 dan dibangun oleh Pangeran Mohamad
Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I.Lantaran berada
di belakang pasar tradisional, keberadaannya bisa diakses oleh siapa pun.
Keraton ini terbuka untuk siapa pun, kata kuncen, pengunjung lokal yang ditemui, oktober
silam. Pengunjung bisa dengan bebas masuk tanpa membeli tiket retribusi lebih
dulu.
Arimbi menyebutkan di dalam
Kompleks Ksiti Hinggil terdapat dua bangunan yakni Mande Manguntur dan Bangsal
Sekaten. Kedua bangunan tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Mande Manguntur
merupakan tempat Sultan menyampaikan wejangan, berita, hukum, atau ajarana
agama kepada masyarakat. Selain itu, berfungsi juga sebagi tempat pelinggihan
Sultan saat hadir dan menyaksikan berbagai macam upacara di Keraton Kanoman
Cirebon. "Mande Manguntur juga tempat Batu Gilang, tempat calon raja dalam
upacara penobatan menjadi raja," sebutnya. Di hadapan Mande Manguntur
terdapat Bangsal Sekatan. Bentuk persegi panjang dengan konstruksi Malang
Semirang. Bagian bawah Bangsa Sekatan terdapat ruangan dengan rongga resonansi
yang terhubung ke Gunung Jati. Dia menyebutkan, fungsi Bangsal Sekaten sebagai
tempat pementasan Gamelan Sekaten peninggalan Sunan Kalijaga. Pementasan
Gamelan Sekaten dilakukan setiap satu tahun sekali tanggal 8 - 12 bulan Mulud. "Di
era Kaprabonan Caruban, Ksiti Hinggil adalah pura tempat penobatan raja. Salah
satunya penobatan Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana menjadi Sri
Mangana," sebut Arimbi.
Maka keraton kasepuhan berserta
Keraton Kanoman ditetapkan menjadi objek
vital yang harus dilindungi. Penilaian tersebut berdasarkan pertimbangan
dari institusi kepolisian, dengan adanya penilaian tersebut maka kepolisian
setempat wajib menempatkan personilnya untuk melakukan penjagaan di keraton
tersebut.
Bila datang sore-sore ada kemungkinan bertemu
dengan penjaga keraton yang menawarkan untuk mengantar berkeliling pendopo
utama. Bangunan ini didominasi dengan warna biru langit, kontras dengan
lantainya yang berwarna kuning cerah. Bangku-bangku untuk menerima tamu
dipasang berderet hingga ujungnya kursi raja dengan panji-panji di belakangnya.
Tirai-tirai berwarna keemasan menggantung di jendela. Di balik pendopo itu
terdapat ruangan tertutup yang di berisi berbagai perabot antik.
Selain singgasana berwarna keemasan,
backdrop
berupa batu-batu karang ini juga dilapis warna emas. Yang menarik, ada dipan
polos dengan warna kayu terletak di balik kursi. Dipan yang kupikir untuk
istirahat raja ini ternyata berfungsi untuk menyemayamkan jenazah keluarga
keraton yang mangkat. Di samping pendopo tadi, ada satu bangunan yang ramai
anak-anak dan keluarganya, yang kupikir mereka adalah keluarga keraton. Jangan
dibayangkan bahwa mereka menggunakan pakaian kebaya adat seperti di
dongeng-dongeng, ya. Pakaiannya sama saja seperti kita, baju sehari-hari untuk
di rumah. di bagian belakang terdapat petilasan tempat bertapa dan juga taman
batu karang, itu membuat makin penasaran dengan batu karang ini. Lokasinya sih
tidak terlalu besar dan sudah tidak digunakan juga, sehingga tampak suram dan
sepi. Sayang sekali, padahal bisa ada cerita menarik di sini di tengah riuhnya
politik internal di dalam keraton.
0 Comments