Dua keraton di Cirebon mempunyai rangkaian hajat pada bulan Maulid dalam penanggalan Islam. Bulan inilah saat yang paling tepat untuk berkunjung ke Cirebon. Sebab, selain bisa menyaksikan prosesi, pengunjung pun bisa melihat benda-benda pusaka yang hanya keluar setahun sekali.

Ritual selama bulan Maulid, yang tahun ini jatuh pada pertengahan Februari dan Maret, berlangsung di dua keraton, yakni Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Keduanya berlokasi di pusat Kota Cirebon.

Jika ingin mengikuti rangkaian ritual utama, pengunjung bisa datang sejak sepekan sebelum acara puncak Maulid Nabi Muhammad SAW. Kamis (5/3) atau lima hari sebelum acara puncak, ritual menyambut perayaan kelahiran nabi telah dilakukan.

Ritual itu diawali dengan pencucian pusaka keraton. Di Kanoman, pusaka yang dicuci saat itu adalah perangkat gamelan dan gong kuno peninggalan Ratu Ayu, putri Sunan Gunung Jati, yang menikah dengan Sultan Demak II Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor. Di Kasepuhan, yang dibersihkan adalah perabot makan.

Menurut PRA Arief Natadiningrat, Putra Mahkota Keraton Kasepuhan, yang memimpin langsung acara itu, alat makan tersebut yang digunakan Wali Songo dalam acara spesial. Kini peralatan itu hanya dikeluarkan saat akan dicuci dan digunakan pada acara puncak mauludan, yakni panjang jimat.

Di Keraton Kanoman, gamelan yang sudah dicuci disusun di Bangsal Sekaten Kompleks Siti Hinggil. Sunan Kalijaga, salah seorang anggota Wali Songo, menggunakan gamelan dan gong ini sebagai sarana penyebaran agama Islam kepada masyarakat saat itu.

Pada upacara tahun ini, Gong Sekati tidak dibunyikan karena bertepatan dengan hari Kamis atau malam Jumat. Menurut RM Arief Rahman, Koordinator Publikasi Panitia Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kanoman, adat keraton melarang pembunyian gong pada malam Jumat hingga Jumat siang setelah shalat Jumat karena itu adalah waktu untuk beribadah.

Kamis kemarin pula, acara sawer Gong Sekati berlangsung istimewa karena dihadiri Sultan Hamengku Buwono X. Seusai sawer, Sultan Kanoman XII Raja Muhammad Emirudin dan Sultan Hamengku Buwono X berjalan di sepanjang keramaian sekaten untuk menyapa warga. Panjang jimat

Acara puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah panjang jimat atau pelal. di Keraton Kanoman, ritual dimulai dengan arak-arakan famili dan abdi dalem yang membawa beragam pusaka. Dalam ritual ini, wakil raja, yakni Pangeran Patih PRM Qodiran, mengenakan jubah emas. Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin hanya melepas keberangkatan arak-arakan ini didampingi tamu undangan.

Arak-arakan akan melewati pintu atau gapura Si Blawong yang hanya dibuka setahun sekali pada acara panjang jimat. Selanjutnya, arak-arakan panjang ini akan berakhir di Masjid Agung Keraton Kanoman dengan acara zikir, shalawatan, dan doa bersama. Di Keraton Kasepuhan, acara panjang jimat dilakukan dengan cara yang sama, berangkat dari dalam keraton dan diakhiri di Masjid Agung Keraton Kasepuhan.

Ribuan warga biasanya tumpah ruah dalam ritual puncak itu. Sebagian dari mereka mengharapkan berkah. Sebagian lagi hanya ingin menyaksikan arak-arakan pusaka yang berlangsung sekali dalam setahun.

Suasana Keraton Kanoman, Cirebon, saat akan diadakan ritual sawer Gong Sekati, Gong Sekati biasanya ditabuh untuk menandai dimulainya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.