Keraton kanoman bangunan kesultanan cirebon yang berdiri pada tahun 1588M setelah keraton kesepuhan. Dua bangunan dari kesultanan cirebon ini kebesaran islam di jawa barat yakni yang menyebarkan agama islam yaitu oleh  sunan gunung jati maka dari itu apabila berbicara tentang cirebon pasti tidak akan lepas dari sosok sunan gunung jati dan juga syarif hidayatullah yang menyebarkan agama islam tersebut.
Mbah kuwu atau Pangeran Cakra Buana dan di bantu oleh saudara nya Sultan Ageng Tirtayasa ( Sultan Banten ) yaitu orang yang mendirikan keraton kanoman . Di dirikannya keraton kanoman ini bertepatan juga dengan hari jadi kota cirebon. beliau mendirikan keraton di kesepuhan yang dilanjutkan oleh anaknya sekaligus turunan kelima yaitu Sunan Gunung Jati. Disaat kakanya Sultan Baridin ingin mendirikan keraton yang baru maka beliau membangun Keraton Kanoman, sedangkan adiknya meneruskan di keraton kesepuhan. Kanoman berarti muda, karena Keraton Kanoman berusia lebih muda dari keraton yang lain.
Keraton kanoman ini masih masih taat pada adat istiadat dan pepakem di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal yakni seminggu sesudah idul fitri dan berziarah ke makam makam leluhur yaitu Sunan Gunung Jati di Desa Astana di Cirebon utara. Sunan Gunung Jati yang juga di kenal dengan Syarif Hidayatullah ini meninggalkan peninggalan-peninggalan besejarah di keraton kanoman yang erat kaitannya dengan  syiar agama islam.
Keraton kanoman yang berlokasi di belakang pasar ini mempunyai 6 hektare di kompleks keraton kanoman tersebut. Area alun alun Kanoman merupakan area terluar dari kompleks keraton Kanoman, pada masa lalu sebelum tahun 1924, alun-alun Kanoman dapat terlihat dari jalan besar di utaranya, di sebelah timurnya adalah tempat aktifitas jual beli masyarakat, di sebelah baratnya ada masjid agung Keraton Kanoman dan di sebelah selatannya adalah area Lemah Duwur yang salah satunya berisi bangunan Mande Manguntur (tempat sultan), namun Belanda yang berniat menjauhkan keraton Kanoman dari rakyat Cirebon akhirnya dengan sengaja memperluas area jual beli masyarakat yang ada disebelah timur alun alun dengan mendirikan pasar diatas sebagian tanah alun alun di sebelah utara sehingga secara sistematis keraton Kanoman tidak bisa langsung terlihat dari jalan besar di utaranya karena sudah tertutup oleh bangunan pasar yang diseleseikan Belanda pada 1924Di keraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin beserta keluarga. Mempunyai luas 6 hektare meupakan komplek yang luas maka terdiri dari bangunan kuno. Salah satu nya saung yang bernama Bangsal Wanita yang merupakan cikal bakal kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan besar.
Selain itu di keraton kanoman ini masih terdapat barang barang peninggalan seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak yakni hewan yang di kendarai oleh Nabi Muhammad SAW ketika ia sedang isyra miraj.  Selin kereta terdapat juga bangsal jinem atau pendopo untuk menerima tamu penobatan seperti sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi, pendopo jinem yang sering dipakai untuk acara adat. Contohnya 1 muharam (ulang tahun cirebon), panjang jimat 12 robiul awal (memperingati hari lahir nabi muhammad), setiap bulan digunakan untuk acara keluarga kanoman. Disaat ada acara tersebut ada tiga pintu yang dibuka untuk tamu agar semua ruangan menyatudan juga di bagian tengah keraton terdapat kompleks bangunan bangunan bernama Siti Hanggit.