Bicara tentang liburan, Indonesia memiliki banyak sekali tempat yang bisa di jadikan pilihan untuk kita kunjungi. Mulai dari tempat yang menyajikan keindahan alam, keindahan kebudayaan, sampai beraneka ragam jenis kuliner. Cirebon, kota yang akrab dengan sebutan kota udang itu merupakan salah satu kota yang menjadi tempat favorit untuk para wisatawan dalam maupun luar negeri.

Selain kaya akan keindahan alamnya, serta makanan-makanan khasnya yang sangat unik, cirebon juga menjadi pusat mode untuk para pecinta fashion. kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya saat mengunjungi salah satu tempat wisata yang sudah tak asing lagi namanya, yaitu Keraton kanoman, Lemah Wungkuk, Cirebon.

Keraton kanoman merupakan salah satu tempat wisata yang masih kental akan budaya nya. Bangunan nya masih kokoh dengan arsitektur khas cirebon. Kanoman berarti muda ,dikatakan muda karena keraton kanoman berusia masih muda dari keraton yang lain. Ada 2 keraton kanoman di Cirebon, keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman.

Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektare ini berlokasi di belakang pasar Di Kraton. Keraton kanoman juga terdiri dari bangunan kuno, salah satu nya saung bangsal witana dengan tempat yang cukup luas. Tidak hanya itu ada juga pendopo jinem, pendopo itu sendiri biasa untuk menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti maulid nabi. Di keraton ini masih terdapat barang barang, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum.

Di Museum itu juga terdapat beberapa peninggalan lainnya seperti gamelan, tombak dan senjata yang dulunya digunakan untuk berperang.
Selain itu juga ada peralatan rumah tangga, hingga senjata-senjata keraton. Berbicara tentang  kereta, kereta Paksi Naga Liman ini sendiri terbuat dari bahan kayu sawo dan dibuat oleh Pangeran Losari pada tahun 1350 Saka atau 1428 Masehi. Kereta Paksi Naga Liman merupakan kereta kebesaran Sunan Gunung Jati, yang memerintah di Kesultanan Cirebon pada tahun 1479 – 1568.

Pemberian nama kereta pun berkaitan dengan bentuknya, yaitu gabungan antara paksi (burung), naga, dan liman (gajah) yang memegang senjata berbentuk trisula. Perpaduan bentuk ini juga melambangkan tiga kekuatan, yaitu darat, laut, dan darat, serta menyimbolkan keutuhan wilayah.
Kereta lain bernama Jempana, merupakan kereta kebesaran permaisuri yang ukirannya bermotif batik Cirebon.

Kereta ini juga berbahan kayu sawo dan dirancang serta dibuat pada tahun 1428 Masehi, atas arahan Pangeran Losari. Di bagian lagi keraton, terdapat singgasana Sri Sultan yang terbuat dari gading dan sudah berusia lebih dari 700 tahun. Kursi kebesaran ini digunakan pada awal pemerintahan Kesultanan Cirebon hingga masa pemerintahan Sri Sultan Kanoman ke-8.