● 1 Muharram / Suro
Peringatan 1 Suro atau 1 Muharram di Cirebon melibatkan dua keraton utama, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Dalam meramaikan 1 Suro diadakan pergelaran “Helaran Budaya” yang digelar di balai kota, dua hari menjelang 1 Muharram. Helaran menyajikan pertunjukan sendratari kolosal “Babad Cirebon” yang berlangsung satu jam. Drama diakhiri dengan penancapan “Pohon Witana”. Setelah itu dilakukan pawai prajurit Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

Keraton juga menggelar sejumlah acara ritual dalam memperingati malam 1 Suro. Misalnya Kanoman, satu hari menjelang 1 Muharram diadakan khitanan masal bagi anak-anak warga sekitar. Anak-anak tersebut dibekali dengan baju kampret, peci,sarung, sandal makanan dan uang. Sebelum khitanan masal diadakan, mereka berkunjung ke makam sunan Gunung Jati untuk membaca Sholawat dan Tahlil. Puncak peringatan malam 1 Suro yaitu pembacaan Babad Cirebon bertempat di Mande Witana.

Babad tersebut menceritakan awal berdirinya kerajaan Cirebon yang dibacakan langsung oleh Sultan. Pada mulanya pembacaan Babad dilakukan di bangunan Witana, belakang Keraton Kanoman. Akan tetapi bagunan tersebut terlalu tua dan dikhawatirkan rusak maka dialihkan ke pendopo utama. Selama pembacaan naskah Babad Sultan didampingi oleh tujuh abdi, tiga orang membawa baki berisi naskah babad, tempat kemenyan, meja kecil; empat orang membawa lilin, serta didampingi oleh enam ulama sepuh. Usai pembacaan babad, acara dilanjutkan dengan persembahan nasi tumpeng kepada khalayak yang hadir.

● Maulid Nabi Muhammad
Di Keraton Kanoman Cirebon tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad berlangsung sejak lima abad yang lalu, ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam. Maulid merupakan hajatan besar setiap tahun yang melibatkan banyak orang, termasuk masyarakat umum diluar Keraton serta penyediaan makanan dalam jumlah besar yang berlangsung di bangsal Sekaten. Maulid menjadi hari istimewa, karena banyak bagian-bagian di keraton yang tertutup rapat terbuka untuk umum. Proses Maulid Nabi terdapat pemotongan dua ekor Kerbau, dagingnya dihidangkan kepada para tamu dan kepalanya ditanam di dua penjuru gerbang Keraton. Kurban Kerbau ini adalah rasa ungkapan syukur dan kepalanya ditanam di alun-alun sebagai penguat atau memperkokoh keraton supaya keraton selulu ingat kepada rakyat.

Tradisi Maulid Nabi menjadi kesempatan emas untuk bertemu dengan Raja. Pada upacara tersebut, wanita sibuk membuat wangi-wangian dari aneka macam bunga yang harum yang akan ditaburkan disetiap piring besar saat arak-arakan Panjang Jimat. Sedangkan keluarga dan abdi dalem akan bersiap-siap membawa benda pusaka dan makanan ke Sultan untuk meminta restu.

Puncak peringatan Maulid Nabi yaitu Panjang Jimat. Adapun prosesi dari panjang jimat tersebut, yaitu arak-arakan nasi tujuh rupa atau nasi jimat yang melambangkan hari kelahiran manusia. Nasi diarak dari bangsal jinem yang merupakan tempat sultan bertahta, ke masjid atau mushola keraton. Nasi jimat diarak dengan pengawalan barisan abdi dalem yang membawa simbol-simbol sebagi lambang. Barisan pengiring nasi jimat ini berupa: pembawa lilin, bertujuan sebgai penerang yang kemudian diikuti dengan iring-iringan pembawa perangkat upacara seperti manggaran, nadan, jantungan yang merupakan lambang dari kebesaran dan keagungan. Barisan selanjutnya ialah pembawa air mawar dan kembang goyang lambang dari air ketuban sebelum bayi lahirdan usus atau ari-ari yang mengakhiri kelahiran. Disusul oleh iring-iringan pembawa air serbat yang disimpan di 2 guci (lambang darah saat bayi lahir) dan 4 baki (lambang 4 unsur dalam diri manusia: angin tanah, api dan air).

Prosesi bergerak dari keraton menuju Masjid Agung peninggalan Sunan Gunung Jati dan berlangsung dengan khidmat, semua warga berhenti melakukan kegiatanya dan prosesi berakhir ditempat ini. Patih dan semua Sesepuh membacakan kitab Barzanzi yang berisi sejarah Nabi, agar masyarakat mau mencontoh kebajikan yang dilakukan Nabi semasa hidupnya. Masyarakat diluar setia menunggu hingga larut malam dengan harapan kebagian makanan sesaji atau kepingan, setelah acara pembagian.