Ingin sensasi liburan selain alam dan kota? coba deh kamu bisa kunjungi Keraton Kanoman. Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan penting dalam sejarah kerajaan cirebon. Disini kamu bisa belajar tentang sejarah tentang kerajaan cirebon, tentang fungsi bangunan-bangunan yang ada di lokasi keraton dan pengetahuan lainnya.

Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1510 Saka atau 1588 Masehi oleh Sultan Kanoman I yang merupakan keturunan ke-7 dari Sunan Gunung Jati atau Syarief Hidayatullah. Tahun berdirinya tertulis dalam bentuk prasasti yang terdapat pada pintu Pandopa Jinem. Di sana terpahat gambar Surya Sangkala dan Chandra Sangkala yang jika diartikan menjadi matahari (angka 1), wayang darma kusumah (angka 5), bumi (angka 1), dan bintang kemangmang (angkal 0).

Kesultanan Kanoman lahir dari keinginan Sultan Banten Ki Ageung Tirtayasa yang menobatkan dua orang pangeran dari Putra Panembahan Adining Kusuma (Kerajaan Mataram) untuk memerintah di dua kesultanan.

Pangeran Badriddin Kartawijaya memerintah di Kesultanan Kanoman dan diberi gelar Sultan Anom. Sementara itu, Pangeran Syamsuddin Martawijaya memerintah di Kesultanan Kasepuhan dengan gelar Sultan Sepuh. Di antara keraton-keraton yang lain, Keraton Kanoman bisa dikatakan sebagai pusat peradaban Kesultanan Cirebon.

Di keraton ini, tersimpan peninggalan-peninggalan bersejarah, mulai dari kereta milik keraton, peralatan rumah tangga, hingga senjata-senjata keraton. Salah satu kereta kerajaan yang masih tersimpan di sini adalah Paksi Naga Liman yang berbahan kayu sawo dan dibuat oleh Pangeran Losari pada tahun 1350 Saka atau 1428 Masehi. Kereta Paksi Naga Liman merupakan kereta kebesaran Sunan Gunung Jati, yang memerintah di Kesultanan Cirebon pada tahun 1479 – 1568. Pemberian nama kereta pun berkaitan dengan bentuknya, yaitu gabungan antara paksi (burung), naga, dan liman (gajah) yang memegang senjata berbentuk trisula. Perpaduan bentuk ini juga melambangkan tiga kekuatan, yaitu darat, laut, dan darat, serta menyimbolkan keutuhan wilayah.

Keraton Kanoman sampai saat ini masih taat memegang adat-istiadat pepakem. Di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal yaitu seminggu setelah Idul Fitri ziarah ke makam leluhur dan nakam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara.

Keramik di dinding-dinding Keraton Kanoman adalah keramik Tiongkok. Hal ini menjelaskan relasi Keraton di Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terbina sejak lama.

Demikianlah. Siapa tahu Anda tertarik untuk melakukan perjalanan wisata religi bersama keluarga sambil menikmati udara segar dan kuliner khas cirebon