Adalah pohon beringin yang dikelilingi pagar besi. Sesuai dengan bentuknya yang rindang, pohon beringin merupakan perlambang pengayoman dan keteduhan Hal ini menunjukkan bahwa keraton mempunyai fungsi pengayoman bagi masyarakat yang berada di lingkungan kekuasaan keraton .
2. Masjid agung kanoman
Adalah tempat dimana keraton menjalankan salah satu fungsinya sebagai pusat penyebaran agama Islam .Saat ini masjid tersebut masih dipergunakan sebagai sarana ibadah umat Islam di sekitar lingkungan keraton dan tempat penyelenggaraan upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW .
Alun–Alun adalah sebidang tanah yang terletak di sebelah Utara Keraton Kanoman yang berfungsi sebagai tempat dilaksanakanya apel besar prajurit dan lain –lain .
Selain itu, ada beberapa hal tertentu yang menjadi ciri khas Masjid di Jawa Barat yaitu; atap Masjid yang biasanya menutupi suatu ruangan masjid yang berbentuk persegi empat atau bujur sangkar. Bentuk persegi empat yang mengingatkan kita pada bentuk masjid menurut aslinya. Seni bangunan masjid, baik di Masjidil Haram di Mekkah maupun masjid di Madinah denahnya memilki bentuk empat persegi. Namun adanya anggapan ini tidak pasti benar, sebab apabila dihubungkan dengan seni bangunan pada zaman pengaruh kebudayaan Hindu, denah candi atau bangunan merupakan denahnya pun mempunyai bentuk serupa, yaitu bujur sangkar atau persegi empat. Sehingga dengan adanya kenyataan ini timbulah suatu anggapan, bahwa bentuk denah masjid yang berbentuk persegi empat itu merupakan kelanjutan dari pada pola yang dimiliki oleh candi atau meru.
3. Lawang Dalem Agung adalah sebuah pintu masuk menuju Keraton atau Pendopo Jinem.yang terletak disebelah alun–alun yang merupakan pintu masuk / akses menuju keraton.
4. Bangsal Panca Niti
Terletak disebelah Barat kompleks Siti Inggil. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat para prajurit berpiket untuk menerima tamu yang datang untuk jenis keperluannya.
5. Panca Ratna
Panca Ratna disini, hakekatnya ialah Panca Indra atau getaran yang lima yaitu: pangucap, pangirup (hidung), pangrungu
(telinga), pandeleng (mata), dan nafsu. Panca Ratna juga diartikan jalan kesukaan, karena Panca berarti jalan dan Ratna berarti suka. Bangunan ini terletak di sebelah Timur komplek Siti Inggil. Bangunan ini sebagai tempat para Bintara berjaga untuk menerima tamu dengan tingkat jabatan lebih tinggi dari prajurit di Bangsal Panca Niti.
6. Lumpang Alu
Bangunan ini terletak disebelah timur bangunan panca Ratna terdapat dua bangunan untuk melindungi benda yang disebut Lumpang dan Alu. Benda ini merupakan peninggalan para leluhur dahulu Lumpang berupa yoni dan Alu berupa lingga
keduanya merupakan
lambang kesuburan pada zaman Hindu.
Benda ini bentuknya semacam Lingga Yoni. Lingga perlambang Dewa syiwa dan Yoni Perlambang Dewi Durga istri dari Dewa syiwa. Kedua benda ini merupakan peninggalan Ki Ageng Pangalang-alang yang berasal dari Cirebon Girang yang semula bernaman Ki Danusela tetapi barang-barang tersebut diinformasikan kepada masyarakat sebagai alat penumbuk rebon untuk membuat terasi milik mbah kuwu Cirebon Pangeran Cakrabuana.
7. Komplek Siti Inggil
Mempunyai letak dataran tanah yang lebih tinggi di bandingkan dataran tanah dari bangunan-bangunan yang ada di sekitar Kanoman.
Ada tiga buah pintu apabila kita akan memasuki Kompleks Siti Inggil yaitu :
a. Pintu Syahadatain, yaitu Pintu masuk yang menghadap Utara.
b. Pintu Kiblat, yaitu Pintu yang menghadap Barat.
c. Pintu Sholawat, yaitu pintu masuk yang menghadap ke Selatan.
Komplek Siti Inggil mempunyai makna filosofis yaitu “ apabila seorang ingin mencapai derajat
yang tinggi, maka kita harus membaca Syahadat sebagai syarat muslim, menghadap kiblat dengan melakukan sholat sebagai salah satu kewajiban muslim, dan senantiasa bersolawat dengan melaksanakan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW sebagai Pemimpin Muslim”.
Didalam komplek Siti Inggil terdapat dua bangunan yaitu :
a. Mande Manguntur, yaitu tempat palungguhan Sultan apabila menghadiri dan menyaksikan upacara sakral dan menyampaikan berita atau wejangan kepada masyarakat.
b. Bangsal Sekaten, terletak di sebelah Mande Manguntur yang berfungsi khusus untuk pementasan Gamelan Pusaka yaitu gamelan Sekaten tiap tanggal 8 sampai denagn 12 Maulid setiap tahunnya.
0 Comments