Upacara Adat Keraton Kanoman Cirebon
Kesultanan Kanoman Cirebon menggelar ritual Nyiram Gong Sekati. Bertempat di Langgar Alit yang berada di komplek keraton, ritual Nyiram Gong Sekati dilakukan para abdi dalem dengan disaksikan Pangeran Patih, Raja Muhammad Qodiron dan keluarga keraton.

Nyiram Gong Sekati merupakan ritual membersihkan seperangkat gamelan dengan gong sebagai sentralnya. Ritual tersebut digelar dalam rangkaian upacara Muludan di lingkungan keraton. Ritual selalu digelar setiap 8 Mulud berdasarkan penanggalan Jawa atau empat hari menjelang puncak acara Muludan di keraton.

Ritual Nyiram Gong Sekati dimulai sekitar pukul 09.00. Seperangkat gamelan dikeluarkan dari tempat penyimpanannya yakni Gedung Pejimatan, dan kemudian dibawa ke Langgar Alit.

Sepanjang perjalanan dari Gedung Pejimatan menuju Langgar Alit, lantunan salawat nabi terus didengungkan. Ratusan warga yang hadir di komplek Keraton Kanoman pun turut larut mengikuti iring-iringan gamelan yang dibawa para abdi dalem tersebut.

Setibanya di Langgar Alit, seperangkat gamelan itu dijejerkan. Pangeran Patih masuk ke dalam langgar, lalu berdoa dengan dipimpin seorang sesepuh.

Setelah doa selesai, seperangkat gamelan disiram atau dicuci satu per satu. Gong berusia paling tua mendapat giliran pertama untuk dicuci. Kerabat keraton lah yang bertugas mencuci benda purbakala tersebut.

Setelah gong paling tua dibersihkan, gong dan perangkat gamelan lain menyusul dibersihkan. Semua benda itu dibersihkan dengan air bercampur bunga dan minyak wangi. Kemudian digosok dengan bubuk batu bata merah menggunakan sabut kelapa. Setelah semua bersih, perangkat gamelan disiram kembali dengan air bercampur bunga dan minyak wangi.

Setelah semua dibersihkan, perangkat gamelan kemudian dibawa ke Bangsal Sekaten. Di tempat itulah gamelan peninggalan abad ke-16, ini akan dibunyikan nanti malam hingga puncak Muludan.

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan hari Lahir Nabi Muhammad. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Oleh masyarakat Indonesia, biasanya Maulid Nabi diperingati dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Barzanji adalah suatu doa-doa, pujian atau penceritaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dilafalkan dengan suatu nada atau irama.

Masyarakat Cirebon, Jawa Barat, khususnya Kesultanan Kanoman Cirebon, punya tradisi unik untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad. Mereka biasanya menggelar tradisi Nyiram Gong Sekati. Tradisi Nyiram Gong Sekati merupakan tradisi pembersihan seperangkat gamelan dengan sebuah gong sebagai sentralnya. Perangkat alat musik tersebut merupakan benda pusaka sejak zaman Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1500. Gong Sekati merupakan barang kenang-kenangan dari Sultan Demak II Abdul Qodir atau Pangeran Sabrang Lor kepada Sunan Gunung Jati. Tradisi tersebut merupakan upaya mengingat perjuangan syiar Islam oleh Sunan Gunung Jati melalui pendekatan seni dan budaya, seperti halnya dilakukan Wali Songo lainnya.

Tradisi Nyiram Gong Sekati rutin digelar setiap tahun yakni menjelang Pelal Ageng Panjang Jimat yang merupakan puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini diawali dengan pembunyian Gong Sekati pada malam harinya oleh belasan abdi dalem keraton yang disebut Nayaga. Gong ini akan dibunyikan hingga Pelal Ageng Panjang Jimat. Sekati sendiri bermakna sesuka hati atau serela hati sehingga pembunyian gong harus dilakukan dengan kerelaan hati. Pembunyian gong sekati didahului pembacaan syahadat sebagai representasi bentuk syiar (Islam) melalui budaya.

Prosesi ritual nyiram Gong Sekati diawali dengan iring-iringan abdi dalem keraton yang membawa Gong Sekati dan berbagai perangkat gamelan menuju area langgar alit. Gong Sekati dan perangkat gamelan ini kemudian dimandikan dengan air dari tujuh sumur yang dicampur dengan kembang setaman(macam-macam bunga: melati, kanthil, kenanga, mawar putih dan mawar merah). Usai dimandikan, Gong Sekati dan sejumlah alat musik gamelan, seperti bonang dan lainnya, digosok dengan abu dari batu bata dan serabut kelapa. Menariknya, selepas pembersihan Gong Sekati dan alat gamelan lainnya, masyarakat justru berdesak-desakan untuk membawa air bekas siraman Gong Sekati. Masyarakat percaya air bekas siraman Gong Sekati membawa berkah dan karomah. Tak hanya air, kembang dan serabut kelapa yang digunakan untuk menggosok gong berusia ratusan tahun itu pun jadi incaran para warga.