KERATON KANOMAN
Keraton
Kanoman pertama kali didirikan oleh mbah kuwu Cirebon yang bernama Pangeran
Cakra Buana. Secara
keseluruhan bangunan yang ada di keraton dibangun pada tahun 1588 M. Dibantu
oleh saudaranya yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan Banten). Beliau
mendirikan bangunan Witana pada tahun 1369, sama halnya dengan memperingati
hari jadi Kota Cirebon. Setelah itu, beliau mendirikan keraton di kesepuhan
yang dilanjutkan oleh anaknya sekaligus turunan kelima yaitu Sunan Gunung Jati.
Disaat kakanya Sultan Baridin ingin mendirikan keraton yang baru maka beliau
membangun Keraton Kanoman, sedangkan adiknya meneruskan di keraton kesepuhan.
Kanoman berarti muda, karena Keraton Kanoman berusia lebih muda dari keraton
yang lain.
Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan
pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul
Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon
Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya
dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga
dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
Keraton Kanoman berlokasi dibelakang Pasar Kanoman
tepatnya di Jl. Kanoman No.40, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111. Di
Kraton ini tinggal sultan ke - 13 yang bernama Raja Muhammad Saladin berserta
keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari
bangunan kuno.
Ada beberapa
benda dan bangunan peninggalan yang ada di keraton tersebut:
1.
Pendopo Jinem yang
sering dipakai untuk acara adat. Contohnya 1 muharam (ulang tahun cirebon), panjang
jimat 12 robiul awal (memperingati hari lahir nabi muhammad), setiap bulan
digunakan untuk acara keluarga kanoman. Disaat ada acara tersebut ada tiga
pintu yang dibuka untuk tamu agar semua ruangan menyatu.
2.
Mandem
mestaka yaitu tepat singgasan sultan yang berada di ruangan purbayaksa.
3.
Gedung gajah mungkur
yang didalamnya terdapat garasi,tetapi sekarang tidak digunakan lagi. Dan di
atasnya terdapat lonceng jaman dahulu yang digunakan untuk menunjukan waktu. Pada zaman dahulu disaat belum ada kendaraan bermotor,
lonceng ini dapat menghasilkan suara hingga radius 3 – 5 km.
4.
Situ inggil digunakan
untuk acara gong sekaten, lalu sultan akan menghadiri pembukaan acara gong sekaten
yang dilaksanakan dibangunan manguntur.
5.
Pintu Pendopo Jinem Secara
garis besar ukiran pintu ini menunjukan berdirinya keraton kanoman. Mulai
ukiran binatang dibawah sampai ukiran wayang,matahari dan bulan, antara pintu
kanan dan kiri berkebalikan.
6.
Siti inggil yaitu tanah
yang lebih tinggi dari yang lainnya atau biasa disebut lemah duwur.
7.
Bangsal Witena
didirikan oleh Pangeran Cakrabuana(Mbah Kuwu Cirebon). Bangunan ini didirikan
pada tahun 1369. Bangunan ini merupakan bangunan pertama di Cirebon yang
merupakan cikal bakal Kota Cirebon. Bangunan ini juga digunakan Mbah Kuwu
Cirebon untuk tempat tinggal, tempat bersemedi, menimba ilmu dan juga tempat
untuk ibadah. Dengan Golok Cabangnya ia mengubah hutan belantara menjadi
Bangsal Witena. Di bangunan ini juga terdapat sumur pengasihan untuk
menghilangkan sial dan juga terdapat tempat berendam pemandian para putri
kerajaan pada masa lampau.
Sunan
Gunung Jati menyebarkan agama islam melalui kesenian gamelan yaitu gong sekati
dan gamelan sekaten. Kesenian itu biasa digunakan untuk acara maulid nabi. Gong
sekaten berasal dari kata syahadaten. Saat mauludan masyarakat Cirebon memberikan minyak sebagai tradisi untuk
sedekah kepada orang yang kurang mampu agar selamat dan dilancarkan segalanya.
Sekarang yang
berada di Keraton Kanoman yaitu Sultan Raja Muhammad Emirrrudin sultan ke-12,
yang merupakan patih dari Pangeran Patih Budiran.
Anggota Kelompok:
1. Kevinz Adhi Anggoro
2. Gizka Fauziah
3. Reza Ardiansyah
4. Rafa Afifah
5. Anwar Huda Sutisna
1. Kevinz Adhi Anggoro
2. Gizka Fauziah
3. Reza Ardiansyah
4. Rafa Afifah
5. Anwar Huda Sutisna
Kelas 1N Manajemen
Semester 1
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon

0 Comments